PENGARUH KOSENTRASI EKSTRAK TAUGE KACANG HIJAU (Vigna radiata L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TANAMAN ALPUKAT (Persea americana Mill.) DENGAN CARA SAMBUNG PUCUK
DOI:
https://doi.org/10.22487/s8hjdt78Kata Kunci:
Alpukat, Ekstrak, Sambung Pucuk, TaugeAbstrak
Sambung pucuk (grafting) merupakan salah satu perbanyakan secara vegetatif yang dikembangkan untuk perbanyakan tanaman alpukat. Beberapa faktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan dalam memproduksi bibit dengan metode grafting yaitu, (1) Faktor tanaman (genetik, kondisi tumbuh, panjang entres). (2) Faktor lingkungan (ketajaman/kesterilan alat, waktu pelaksanaan grafting (pagi, siang, sore hari). (3) Faktor keterampilan orang yang melakukan grafting. (4) Panjang entris berkaitan dengan kecukupan cadangan makanan/energi untuk pemulihan sel-sel yang rusak akibat pelukaan dan (5) kondisi iklim dan cuaca. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kayulompa, Kecamatan Basidondo, Kabupaten Toli-Toli. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2022. Alat yang digunakan yaitu gunting, pisau atau cutter, plastik sungkup, tali plastik, blender, kertas lebel, penggaris, timbangan, saringan, wadah, gelas plastik, gelas ukur, jangka sorong, kertas millimeter blok, kamera dan alat tulis. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah batang bawah tanaman alpukat, entris alpukat varietas mentega, taoge kacang hijau dan air. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor yaitu penggunaan ekstrak taoge. P0 = tanpa ekstrak taoge, P1 = ekstrak taoge (10ml/tanaman), P2 = ekstrak taoge ( 20 ml/tanaman) P3 = ekstrak taoge (30 ml/tanaman) dan P4 ekstrak taoge (40 ml/tanaman). Terdapat 5 perlakuan, masing-masing perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 15 unit percobaan, setiap perlakuan terdapat tiga bibit tanaman sehingga diperoleh 45 bibit tanaman. Hasil penelitian menunjukkan pada perlakuan P1 ekstrak taoge (10ml/tanaman) cenderung memberikan pengaruh nyata terhadap parameter panjang tunas, jumlah daun dan diameter batang.
Unduhan
Referensi
Alifudin, M, F. 2020. Pemberian Hormone Alami Terhadap Kualitas Bibit Alpukat (Persea americana Mill.) dengan Cara Sambung Pucuk. [Thesis] Agroteknologi. Fakultas Sains dan Teknologi. UNIDA. Gontor.
Arif, M., Murniati, M., dan A, Ardian. 2016. Uji Beberapa Zat Pengatur Tumbuh Alami Terhadap Pertumbuhan Bibit Karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.). J. Online Mahasiswa Fakultas Pertanian. Universitas Riau. 3 (1): 1-10.
Badan Pusat Statistik. 2022. Statistik Tanaman Buah-buahan dan Sayur-Sayuran Tahunan Indonesia. Badan Pusat Statistik. Jakarta.
Gaba, V.P. 2005. Plant Growth Regulator. In R.N. Trigianoand D.J Gray (eds). Plant Tissiue Culture and Development. CRC Press. London. Hal. 87-100.
Iqbal, M. 2012. Pengaruh Perendaman Entris dalam Ektrak Jagung dan Kangkung Terhadap Pertumbuhan Sambung Pucuk Kakao (Theobroma cacao L.). J. Agronomi. Universitas Hasanudin. Makassar.
Kemal, dan Prihatman. 2000. Alpukat/alvocado. Sistem Informasi Manajemen Pembangunan Di Perdesaan BAPPENAS. Jakarta.
Khoiriyah N., E.S. Rahayu, dan L. Herlina. 2013. Induksi Perbanyakan Tunas Rosa damascene Miil. dengan Penambahan Auksin dan Sitokinin. Unnes Journal of Life Sciense. 2 (1): 57-63.
Lakitan, B. 2001. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. PT. Raja Grafindo Perseda: Jakarta.
Pamungkas, S.S.T., dan Puspitasari, R. 2019. Pemanfaatan Bawang Merah (Allium cepa L.) sebagai Zat Pengatur Tumbuh Alami Terhadap Pertumbuhan Bud Chip Tebu pada Berbagai Tingkat Waktu Rendaman. Biofarm. J. Ilmiah Pertanian. 14 (2).
Pardede, C. 2017. Pengarun Pemberian Benzyl Amino Purin (BAP) Terhadap Keberhasilan Sambung Pucuk Tanaman Durian (Durio zibethinus Murr.). Skripsi. Hal. 1-54.
Patmasari. P., dan Amarullah. 2018. Kajian Penggunaan Beberapa Bahan Alami sebagai Sumber ZPT dan Metode Sayatan Terhadap Sambung Pucuk Durian (Durio zibethinus Murr.). J-PEN Borneo: J. Ilmu Pertanian. 3 (1): 1-6.
Pramudito., Karno., Faskhah, E. 2018. Efektifitas Penambahan Hormon Sitokini (IBA) dan Sitokinin (BAP) Terhadap Sambung Pucuk Alpukat (Persea amirecana Mill.). J. Agro Complex. 2 (3): 248-253.
Pratomo, B., C. Hanum., dan L.A.P. Putri. 2016. Pertumbuhan Okulasi Tanaman Karet (Hevea brassiliensis Muell Arg.) dengan Tinggi Penyerongan Batang Bawah dan Benzilaminopurin (BAP) pada Pembibitan Polibag. J. Penelitian Pertanian Terapan. 10 (1):7-16.
Pina, A., dan Errea. 2005. A Review of New Advances in Mechanism of Graft Com-Patibility-Incompatibility. Sceentia Horticulture. 106. 1-11.
Salisburry, F. B. dan C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid I Terjemahan Diah R. Lukman dan Sumaryo. ITB. Bandung.
Sumarsono. 2012. Teknik Sambung Pucuk dengan Entres Tidak Bercabang dan Bercabang pada Pembibitan Tanaman Manggis. Buletin Teknik Pertanian. 7 (1): 37-40.
Tambing, Y. 2004. Respon Pertautan Sambung Pucuk dan Bibit Mangga Terhadap Pemupukkan Nitrogen pada Batang Bawah. J. AgriSAINS. 5 (3): 141-147.
Tambing, Y., dan A. Hadid. 2008. Keberhasilan Pertautan Sambung Pucuk pada Mangga dengan Waktu Penyambungan dan Panjang Entris Berbeda. J. Agroland. 15 (4): 296-301.
Tirtawinata, M.R. 2003. Kajian Anatomi dan Fisiologi Sambungan Bibit Manggis dengan Beberapa Anggota Kerabat Cluciaceae. {Skripsi}. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Ulfa, Fachirah. 2014. Peran Senyawa Bioaktif Tanaman sebagai Zat Pengatur Tumbuh dalam Memacu Produksi Umbi Mini Kentang Solanum tuberosum L. pada Sistem Budidaya Aeroponik. Disertasi Program Studi Ilmu Pertanian. Pasca Sarjana. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Wattimena, G.A. 2000. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman: PAU Bioteknologi IPB. Bekerjasama dengan Lembaga Sumberdaya Informasi IPB. Bogor.
